Ketika Tato dan Piercing Mulai Marak di Kalangan Muda Kediri
Simbol Gaya Hidup, Lebih Mahal Menghapus
Kaum muda punya cara sendiri untuk berekspresi dan mengungkapkan kebebasan. Salah satunya adalah dengan seni melukis tubuh (tattoo) dan piercing. Komunitas para penggunanya pun kini tak takut dicap buruk di masyarakat.
IKA MARIANA, Kediri
—
Kios kecil di Jalan Patiunus ini sedikit berbeda dibandingkan dengan kios-kios yang lainnya. Bila kebanyakan kios menjual berbagai makanan atau pulsa handphone, tidak dengan kios berukuran 2×2 meter ini. Di kios ini etalasenya berisikan berbagai aksesori untuk piercing, kalung, cincin, dan aksesori lainnya. Dindingnya dipenuhi berbagai desain atau gambar tato. Sederet poster dan foto selebritis luar negeri, lengkap dengan tato dan tindik, pun dipajang di sana.
Pada salah satu sudutnya tertumpuk katalog berisikan desain tato dan foto-foto berbagai jenis tindik dan aksesorinya. Bersebelahan dengan kotak-kotak berisi berbagai peralatan yang digunakan untuk membuat tato serta piercing. Ada jarum, tinta, sarung tangan, koil (mesin membuat tato), dan lainnya.
Ya, kios tersebut memang membuka jasa untuk mentato serta melakukan piercing. Tak heran bila mayoritas pengunjungnya adalah anak muda.
Seperti siang itu, beberapa pemuda, laki-laki maupun perempuan, dengan dandanan penuh gaya memenuhi kios mungil bernama ‘One Up Tatto’ tersebut. Beberapa dari mereka mengenakan tindik serta piercing di telinganya. Bahkan sampai memenuhi daun telinga.
Beberapa lainnya memiliki tato di beberapa bagian tubuh. Ada yang di tangan, ada juga yang di leher. Serta ada pula yang mengenakan keduanya.
Di antara yang bertato itu ada seorang yang terlihat paling ekstrem. Meskipun di daun telinga kirinyanya tak lagi ada aksesori, namun bekas piercing yang berderet masih terlihat. Demikian juga di dahi dan hidungnya. Bekasnya berwarna hitam, serupa noktah kecil. Saat berbicara, baru terlihat anting yang terpasang tepat di tengah lidahnya.
Tak hanya itu, yang paling terlihat adalah tato yang memenuhi tangan kanan dan kirinya. Sesudahnya, dia juga mengaku bahwa sekujur tubuhnya pun penuh tato dan bekas tindikan.
Pemuda itu adalah Wawan Haryanto. Biasa dipanggil dengan sebutan Gokwan. Saat ditanya artinya, sambil tertawa dia menggeleng tanda tak tahu. “Itu teman-teman yang manggil, nggak tahu kenapa,” akunya.
Wawan atau Gokwan adalah salah seorang penggila tato dan tindik. Dia pula pemilik kios sekaligus si tukang tato dan piercing. Pemuda ini mengaku mulai menato tubuhnya saat duduk di kelas enam sekolah dasar. Sang kakak yang memperkenalkan kala itu. Sejak itu, Gokwan mulai bereksperimen dan terus menambah koleksi tatonya.
Pemuda berusia 26 tahun ini berargumen bahwa tato adalah sebuah karya seni. Pemakainya bisa merasa dan terlihat lebih keren. Serta kian percaya diri. Demikian juga dengan piercing. Namun, lebih dari itu, keduanya adalah sebuah simbol kebebasan dan gaya hidup.
“Tato dan piercing ini buat aku adalah simbol kebebasan, serta sebagai bagian dari gaya hidup,” papar pemuda murah senyum ini.
Tak takut dicap buruk oleh masyarakat? Karena selama ini di masyarakat ada anggapan bahwa mereka yang bertato atau piercing adalah para penjahat atau kriminal. Selalu dikaitkan dengan yang buruk-buruk.
Dengan santai, Gokwan menggeleng sembari tertawa. Dia berdalih bahwa baik atau buruk tak dilihat dari fisiknya saja. Orang yang mengenakan tindik, piercing, ataupun tato menurutnya bukan berarti jahat. Demikian juga sebaliknya, mereka yang tidak bertato ataupun bertindik di tubuhnya belum tentu orang baik-baik. Semua itu tergantung individu masing-masing.
“Aku sih santai, yang penting aku nggak berbuat jahat. Lagian itu kan tergantung individunya, nggak berarti yang tatoan atau pake tindik banyak adalah kriminal. Tato dan piercing-nya kan diam aja,” kilahnya.
Hal ini juga diiyakan oleh Willy, teman Gokwan yang juga penyuka tato. Pemuda berusia 20 tahun tersebut malah ingin mengubah image itu di masyarakat.
Dibanding Gokwan, Willy bisa dikatakan pemula di dunia tato dan piercing. Pemuda berambut keriting ini baru punya satu tato di punggungnya. Tato bergambar tokoh kartun Sonic tersebut tergambar rapi di pundak kirinya. Sekalipun gambar tersebut tidak mewakili karakternya, namun dia memilihnya lebih karena ingin terlihat beda.
“Nggak selalu sesuai dengan karakter kita sih, aku lebih suka pilih gambar yang beda aja,” terangnya sambil memperlihatkan tatonya.
Saat ditanya apakah tidak sakit atau ngeri saat ditato ataupun ditindik, Gokwan dan Willy pun sepakat mengatakan awalnya pasti ada sedikit sakit. Namun lama-lama akan terbiasa juga. Lagipula, peralatan untuk tato dan piercing saat ini sudah lebih baik.
Gokwan yang mahir mentato, menindik, serta piercing sejak tujuh tahun lalu tersebut mengatakan bahwa keduanya harus dilakukan sesuai prosedur. Peralatan steril harus yang utama. Hal itu untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Seperti penularan penyakit dan sebagainya.
Lalu berapa harga untuk tato dan piercing? Dengan cepat Gokwan mengatakan tergantung pada tingkat kesulitan dan besarnya gambar. Untuk tindik, bergantung pada bahan aksesori yang diinginkan.
Harga tato mulai seratus ribu hingga jutaan rupaih. Sedangkan untuk piercing mulai dari Rp 70 ribuan. Murah lagi adalah tindik, sekali tindik hanya Rp 15 ribu.
Tato sendiri ada yang temporer ada pula yang permanen. Meskipun permanen ternyata bisa juga dihapus. Namun jangan salah, menghapusnya lebih sakit dan lebih mahal dibanding saat mentato.
“Lebih sakit dan mahal kalau menghilangkan tato. Satu senti (centimeter, Red) harganya tujuh puluh lima ribu (rupiah),” jelas pemuda asal Kaliombo, Kediri tersebut. Jadi, lebih baik memikirkan baik-baik sebelum memutuskan gambar apa yang ingin ada di tubuh kita. Daripada kesakitan dan harus bayar mahal.
sumber: radar kediri
No related posts.
walah tatoan segala…alay…dipikirkan masak2 apakah halal, jika buat wudhu menghalangi air yang masuk nggak…..
nunung
sumpahhh sebagai anak sekolahge seneng bgt di piercing kran sebagai bwt gaya… gw juga bwt kepedean… keren tuh klu tindiik di Lidah,,,,,
tahu cara hilangkan bekas piersing dengan cepat g?