<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>alumnismada.org &#187; berjiwa mandiri</title>
	<atom:link href="http://blog.alumnismada.org/tag/berjiwa-mandiri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.alumnismada.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 03:02:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Berjiwa Mandiri, Bikin Penyulingan Minyak Cengkih</title>
		<link>http://blog.alumnismada.org/2009/01/04/berjiwa-mandiri-bikin-penyulingan-minyak-cengkih/</link>
		<comments>http://blog.alumnismada.org/2009/01/04/berjiwa-mandiri-bikin-penyulingan-minyak-cengkih/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 16:43:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alumni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabare Kediri]]></category>
		<category><![CDATA[berjiwa mandiri]]></category>
		<category><![CDATA[cengkeh]]></category>
		<category><![CDATA[kediri]]></category>
		<category><![CDATA[minyak]]></category>
		<category><![CDATA[mojo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.alumnismada.org/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Lapangan Kerja Baru berawal dari Ketel Bekas 
Jiwa wirausaha muncul bahkan dari pelosok desa. Senen dan Kunik, pasangan suami istri (pasutri) yang tinggal di Dusun Biting, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri ini membuktikannya. Usaha yang dirintis dari bawah ini kini bisa jadi pembuka lapangan kerja baru.
SRI UTAMI, Kediri.
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-
Seorang pemuda sibuk mengangkati daun cengkih yang [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="textsedang" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;"><strong>Lapangan Kerja Baru berawal dari Ketel Bekas </strong></p>
<p>Jiwa wirausaha muncul bahkan dari pelosok desa. Senen dan Kunik, pasangan suami istri (pasutri) yang tinggal di Dusun Biting, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri ini membuktikannya. Usaha yang dirintis dari bawah ini kini bisa jadi pembuka lapangan kerja baru.</p>
<p><strong>SRI UTAMI, Kediri.</strong></p>
<p><strong>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</strong></p>
<p>Seorang pemuda sibuk mengangkati daun cengkih yang menumpuk di sebelah rumah Senen. Kemudian diletakkan di dekat tempat pembakaran yang berada tak jauh dari tempat itu. Sedangkan seorang pemuda lagi seksama memperhatikan besarnya api yang digunakan memanasi ketel. Ketika bara mulai mengecil dia kemudian melemparkan tumpukan daun cengkih kering yang ada di sampingnya.</p>
<p>&#8220;Ini bukan daun cengkih baru. Tapi daun cengkih yang baru direbus,&#8221; terang pemuda bernama Slamet Riyadi itu.</p>
<p>Daun cengkih yang dijadikan bahan bakar tersebut memang daun cengkih yang sudah selesai disuling. Tentu saja minyaknya sudah habis. Sementara daun cengkih baru dimasukkan di ketel untuk disuling.</p>
<p>Seperti proses penyulingan lainnya, penyulingan minyak cengkih melewati beberapa tahap. Tahap pertama daun cengkih kering direbus di satu ketel khusus. Setelah itu, air hasil rebusan tersebut dialirkan ke dua bak kecil. Dua bak itu yang digunakan untuk menyaring minyak dan air sisa rebusan.</p>
<p>Dalam ketel raksasa yang berdiameter 1,5 meter dengan tinggi 3 meter tersebut bisa direbus daun cengkih hingga tujuh kuintal. Perebusan memakan waktu sekitar 12 jam. Untuk memastikan sari minyak yang ada di daun cengkih habis. Daun cengkih yang telah &#8216;kering&#8217; itulah yang kemudian dijadikan bahan pembakar penyulingan.</p>
<p>Bagi dua pemuda tersebut, Slamet dan Samsul Muarif, proses penyulingan harus mereka tunggu hingga selesai. Sebab, bara api untuk memanaskan ketel tak boleh meredup. Jika hal itu terjadi maka proses pembakaran tidak akan sempurna. Minyak yang keluar dari hasil penyulingan juga tidak akan maksimal. &#8220;Daun bekas penyulingan cukup untuk membakar satu kali proses penyulingan,&#8221; lanjut pemuda berusia 18 tahun itu.</p>
<p>Untuk memaksimalkan proses penyulingan, sesekali Senen dan Kunik, pasutri yang memiliki usaha tersebut, mengawasi. Terutama agar bisa menjaga bara api dalam proses pembakaran.</p>
<p>Meskipun Slamet sudah bekerja selama beberapa tahun, Senen dan Kunik masih sering memberikan pengarahan. &#8220;Apinya bagaimana?&#8221; tanya kunik pada Slamet.</p>
<p>Tujuh kuintal daun cengkih yang direbus bisa menghasilkan 11-15 kilogram minyak cengkih. Tergantung tingkat kekeringan daunnya. Semakin kering akan menghasilkan minyak yang lebih banyak.</p>
<p>Sejak pertama menekuni usaha penyulingan minyak cengkih empat tahun silam, Senen dan Kunik sudah mempekerjakan Slamet dan tiga temannya, yang semua lulusan sekolah dasar. Senen tidak bisa mengerjakannya sendiri. Sebab ada banyak proses yang harus dilalui. Apalagi proses penyulingan berlangsung selama 24 jam penuh.</p>
<p>Lamanya proses penyulingan yang membuat Senen dan Kunik berinisiatif mengajak tiga pemuda putus sekolah di desanya untuk membantunya. Mulai mengangkut daun hingga melakukan proses penyulingan. Senen dan Kunik sendiri lebih sibuk untuk mencari bahan baku minyak cengkih. Yaitu daun cengkih kering.</p>
<p>Kini, setelah bekerja di tempat penyulingan minyak cengkih tersebut, bocah-bocah jebolan SD tersebut berusaha meneruskan pendidikan. Mereka masuk SMP Terbuka.</p>
<p>Awal menekuni usaha, Kunik hanya mencari daun cengkih di sekitar desanya saja. Sebab, volume penyulingan hanya sekali sehari. Sehingga stok daun cengkih masih mencukupi.</p>
<p>Tetapi, kini setelah dua kali proses penyulingan dalam sehari, Kunik membutuhkan lebih banyak daun. Sehari total butuh 14 kuintal daun cengkih kering. Diapun harus pergi ke desa-desa tetangga. Bahkan hingga di luar kecamatan, seperti ke Desa Parang, Kecamatan Banyakan. Satu kilogram daun kering dibelinya dengan harga Rp 500.</p>
<p>Meskipun sudah berburu daun cengkih kering ke beberapa daerah, sering stoknya tak bisa mencukupi. Khususnya saat musim hujan seperti sekarang. Pasokan bisa tak ada sama sekali. Petani yang biasanya mengumpulkan daun kering tidak bisa melakukannya lagi. Sebab, daun dalam keadaan basah.</p>
<p>Untuk menyiasati hal itu, biasanya Kunik berusaha menumpuk stok pada saat musim kemarau. Tetapi, hal itu juga belum cukup. Contohnya saat ini, dia hanya mempunyai stok tersisa sekitar dua ton. Jumlah tersebut hanya bisa mencukupi untuk pembakaran selama Januari saja. Padahal, dia baru bisa mendapat stok sekitar Mei nanti.</p>
<p>&#8220;Kalau memang stok itu habis <em>ya</em> berarti berhenti (menyuling) dulu. Sekarang susah cari daun kering,&#8221; kata Kunik.</p>
<p>Keterbatasan stok hingga saat ini memang menjadi masalah tersulit untuk menjaga kelangsungan usahanya tersebut. Padahal, order minyak cengkih terus ada. Minyak hasil sulingan pasutri ini dikirim ke beberapa produsen obat di daerah Blitar. Bila berhenti menyuling karena stok cengkih habis, berarti suplai ke produsen obat tersebut juga berhenti.</p>
<p>Bagaimana Senen dan Kunik awalnya bisa menekuni usaha seperti itu? Ibu satu anak ini bercerita, usaha tersebut bermula ketika suaminya bekerja sebagai penjual daun cengkih kering yang memasok ke Trenggalek dan beberapa daerah lainnya. Saat itulah dia mendapat tawaran untuk membeli ketel bekas yang tidak terpakai.</p>
<p>Dengan bekal melihat proses penyulingan selama beberapa tahun terakhir, Senen memberanikan diri untuk usaha penyulingan minyak. Dengan hasil penjualan minyak cengkih Rp 50 ribu per kilogram, Senen dan Kunik bisa menggantungkan hidupnya pada pekerjaan tersebut. Termasuk empat pemuda yang menjadi karyawannya tersebut.<strong>(fud)</strong></div>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.alumnismada.org/2009/01/04/berjiwa-mandiri-bikin-penyulingan-minyak-cengkih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
